24.09.2012  •  Pepanggihan  •  No Comments  • 

Connie Rahakundini Bakrie, Antara Militer dan Jendela Rumah

Banyak hal yang membuat Connie jatuh hati. Namun, kecintaannya yang besar justru ia letakkan pada bidang yang tidak populer, yaitu menjadi pengamat militer. Connie membuktikannya melalui buku yang ia tulis “Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal”. Buku yang cukup ‘berat’ untuk bacaan orang awam, tapi sangat inspiratif untuk kalangan militer. “Harapan saya, orang cinta pada tentara,” ujar Connie, mantap.

Bukan tanpa alasan Connie menulis buku tersebut. “Saya kira pengalaman itu lahir tidak secara pribadi. Tapi kalau kita cermati bersama akan bisa langsung terlihat,” kata Connie. Ia mencontohkan, bagaimana Singapura yang begitu kecil bisa menjadi begitu hebat dan memegang peranan penting di kawasan ini dikarenakan kekuatan ekonomi dan kecanggihan militernya. Berbicara tentang militer, Connie bagai membuka kamus tebal yang telah ia “lahap” habis. Begitu detail dan sangat rinci. Banyak harapan yang ia ungkapkan, berikut kekecewaan dan kekaguman.

Connie enggan disebut pengamat politik, ia lebih nyaman disebut pengamat militer. “Karena politik mencakup banyak hal, luas, serta kompleks. Dan sangat banyak senior serta guru-guru saya yang lebih kompeten untuk disebut dengan gelar demikian. Mungkin secara pribadi saya lebih nyaman diberi title seperti selama ini, pengamat pertahanan dan militer, jadi jelas fokusnya,” ujar istri Let. Jend. (Pur.) Djadja Suparman SIP. MM ini dengan tegas.

Begitupun di dunia pendidikan. Connie yang juga dosen FISIP UI ini memilih fokus mengajar 3 mata kuliah yang berhubungan dengan bidang militer, yaitu Pemikiran Politik Indonesia, Pembangunan Politik dan Geopolitik.

“Saya kira saya belum memberikan kontribusi apa-apa yang berarti,” kata Connie merendah. Kalaupun buku terbarunya tentang dunia militer tersebut menjadi kontribusi penting di kalangan militer, Connie hanya tersenyum dan mengucap syukur.

“Kalau apa yang saya tuliskan dalam thesis saya yang kemudian dibukukan, kemudian disebut-sebut sebagai salah satu kontribusi penting untuk dunia pertahanan, sebenarnya dari saya pribadi lebih kepada himbauan agar kita semua ’aware’ akan tantangan dan ancaman apa yang sedang menunggu tepat dihadapan kita. Globalisasi membawa dunia kepada ketidak seimbangan kekuatan disegala bidang, ekonomi khususnya, yang semakin hari semangkin besar jaraknya,” ujarnya tegas.

Connie mengangkat bahunya. “Jika sebagai bangsa kita tidak ikut serta bersiap dan menjaga batas wilayah dan tanah air kita, mungkin kita akan menjadi bagian dari bangsa bangsa lain yang hanya bisa ‘menggigit jari’ dan hilang dilindas peradaban baru ini,” kata Connie, dengan nada tinggi.

Satu impian Connie saat ini, yaitu menyelesaikan kulliah S3 segera. “Kalau bisa sambil sekaligus mengejar double degree (Phd) saya dan memberikan sumbangsih dalam bentuk apa saja yang mungkin bisa memberikan enlightenment untuk orang-orang di sekeliling saya, keluarga, sahabat, mahasiswa, kampus saya,” ujar almunus Billy Blue School of Graphic Design, Sydney, Australia, bersemangat. Karenanya Connie meletakkan cintanya yang lain pada dunia pendidikan.

“Saya mencintai kehidupan kampus baik sebagai pendidik maupun yang sedang dididik,” ujarnya sambil tertawa. Menjadi pendidik, lanjut Connie, secara tidak langsung mendidik diri saya sendiri. Juga mendorongnya untuk terus belajar dan rajin membaca.

“Mahasiswa sekarang kan pintar pintar. Aksesnya juga sangat luas dan mendunia. Kalau kita sebagai pendidik terus ketinggalan informasi terkini pastinya akan memalukan. Ibarat pepatah sambil menyelam minum air.”

Tak hanya berkutat di dunia pendidikan, wanita cantik ini juga disibukan dengan sejumlah penelitian di IDSPS (Institute of Defence and Peace Studies). “Saya sedang sibuk mengeksplorasi bahan-bahan dan apa saja yang terkait dengan tentang Rumus Kekuatan Bangsa, karena dalam proposal desertasi saya, akan saya bantah sebuah teori yang menurut saya tidak berjalan sedemikian sederhana untuk belahan negara dunia ketiga,” ujarnya. Selanjutnya, Connie akan disibukkan dengan proyek terbarunya menerbitkan bukunya dalam bahasa Inggris.

Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar

komentar

Komentar

komentar

Powered by Facebook Comments

-->