30.08.2012  •  Ngadi Busana  •  2 Comments  • 

Tuti Nusandari Roosdiono, Mengenalkan Budaya Bangsa Sejak Usia Dini

Sungguh tidak terbayang bagaimana kesan orang di luar negeri ketika mendengar ada anak kecil menyanyikan lagu bocah bahasa Jawa, “Menthok-menthok..tak kandani..yen rupamu…” Jelas mereka akan bertanya-tanya dalam hati bahasa apakah itu? Atau anak dari negara mana ini? Sebetulnya hal di atas hanyalah contoh kecil di mana seseorang bahkan anak kecil bisa menunjukkan ciri khas bangsa. Apalagi lagu bocah bahasa Jawa semacam itu sudah mulai jarang kita dengar didendangkan orang tua kepada anaknya dan sudah tergantikan oleh lagu Mozart yang katanya bisa mencerdaskan anak.

Itulah yang dialami oleh ibu sekaligus eyang, Nusandari Retno Widyastuti, istri dari Anangga Wardana Roosdiono, yang lebih dikenal dengan panggilan Tuti Nusandari Roosdiono atau Tuti Roosdiono. Sebagai eyang dari empat cucu dari kedua putrinya, Tuti sangatlah bangga cucunya mengenal budaya sendiri, sehingga tidaklah sia-sia ia mengenalkan lagu bocah seperti itu sejak kecil. Hal seperti itu jugalah yang Tuti Roosdiono harapkan dengan segala usahanya menghidupkan kembali dan berpartisipasi aktif dalam kesenian wayang orang ataupun sendratari sandi beksa. Keikutsertaannya bermain dalam pagelaran-pagelaran wayang orang dan sendratari membuat generasi muda mau mengenal dan ikut serta menjadi pemain.

Ini semua Tuti lakukan sebagai upaya untuk melestarikan budaya bangsa terutamanya wayang orang.  Sehingga bersama teman-teman dan relasinya yang juga mempunyai perhatian yang sama, membentuk sebuah wadah dengan nama Mitra Barata dimana tahun lalu Tuti Roosdiono menjadi ketua umumnya. Selain di Mitra Barata, Tuti Roosdiono sendiri berpartisipasi pada beberapa  kelompok seni diantaranya Sedya Budaya, dimana pada pagelaran yang bertema ‘Retno Dumilah’ Tuti berperan sebagai Kanjeng Ratu Kenconosari. Bergabung dalam kelompok seni Gala Budaya, dalam waktu dekat Tuti Roosdiono berencana menghidupkan kembali Wayang Orang Jogja dengan menyelenggarakan pementasan diJakarta.

Tuti Roosdiono yang lahir di Salatiga ini semasa SMA di Solo lebih dikenal dengan nama Tuti Kardjo ini mengenal seni tari dan gamelan sejak ia kecil . Terlahir dari keluarga wedana karena eyangnya, Singoranoe adalah seorang Wedana di Kartasura, membuat Tuti kecil cukup dalam mengenal budaya Jawa. Meskipun sang ayah, Soekardjo sempat mengirimnya kuliah Administration and Business di Washington-Amerika, hal itu tidak membuatnya melupakan budaya Jawa khususnya kesenian wayang orang yang cerita-ceritanya ia hafal betul.

Ibu dua orang anak perempuan ini sempat bekerja di Elnusa dan Caltex ketika sebelum menikah.Tuti Roosdiono yang juga seorang pelukis ini mulai belajar melukis ketika anak-anak beranjak dewasa dan ia sempat melakukan pameran beberapa kali yang diawali dengan pameran pertama kali tahun 1989. Ibu dan eyang yang masih terlihat cantik di usianya ini selalu mengusahakan hidup yang seimbang, sesuai petuah sang Ibunda Siti Ainoen, sepertinya itulah rahasia  Tuti Roosdiono selalu terlihat cantik, sumringah dan segar. Sehingga tidaklah mengherankan bila akhir tahun lalu Tuti Roosdiono terpilih sebagai salah satu dari 50 wanita cantik Indonesia karena kiprahnya di masyarakat sebagai sumber Inspirasi Wanita menurut salah satu majalah highend Jakarta.Gayahidup orang Jawa memang sangat melekat pada Tuti Roosdiono yang hingga kini masih rajin minum jamu racikan sendiri seperti temulawak atau kunyit, yang menurutnya bagus untuk pencernaan dan kesehatan usus.

Ida Susanti
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar

komentar

Komentar

komentar

Powered by Facebook Comments

-->