27.08.2012  •  Regol  •  No Comments  • 

Surga Ilmu Pengetahuan Itu Bernama Sangiran

Sukses dengan temuan The Java Man di Trinil, Eugene Dubois meneruskan penjelajahannya ke berbagai situs manusia purba di Pulau Jawa, terutama di sejumlah tempat sekitar aliran Sungai Bengawan Solo. Sangiran adalah satu tempat yang didatanginya di tahun 1893. Namun karena tidak ada data pendukung dan temuan yang berarti, situs ini segera ditinggalkannya karena dianggap tak terlalu menjanjikan. Keputusan Dubois ini belakangan terbukti meleset.

Pada tahun 1931, J.C. van Es dari Jawatan Pertambangan Pemerintah Hindia Belanda melakukan penelitian geologi di kawasan Sangiran dan menghasilkan peta geologi Sangiran dengan skala 1:20.000. Berbekal peta geologi ini, G.H.R. von Koenigswald yang telah melanglang buana ke sejumlah situs purba di Pulau Jawa, mulai melirik Sangiran sebagai lokasi baru penelitiannya di tahun 1934. Saat-saat awal penelitiannya belum banyak temuan yang lebih berarti dibanding temuan-temuannya di situs yang lain. Baru sejak tahun 1936, bukan hanya fosil binatang, fosil manusia pun mulai ditemukan. Pertama kali ditemukannya fragmen rahang berukuran besar dan dinamainya Meganthropus palaeojavanicus atau manusia purba raksasa dari Jawa. Beberapa tahun kemudian, ia menemukan pula bagian tengkorak manusia yang kemudian dinamai Pithecanthropus robustus.

Sejak saat itulah, Sangiran tak henti-hentinya menghasilkan fosil manusia purba, disamping ribuan fosil binatang serta artefak purba. Di Museum Manusia Purba Sangiran saja, saat ini setidaknya telah terkumpul lebih dari 13.800 buah fosil purba. Koleksi itu terus bertambah, karena setiap musim hujan, bumi Sangiran selalu mengalami erosi yang acapkali menyingkapkan tanah dan memunculkan fosil-fosil purba dengan sendirinya.

Bagaimana semua ini bisa terjadi di Sangiran?

Di kalangan ilmuwan, situs manusia purba ini dikenal dengan istilah Sangiran Dome atau Kubah Sangiran. Ini karena secara geomorfologis kawasan Sangiran merupakan daerah perbukitan dengan struktur kubah atau dome di bagian tengahnya. Melalui proses yang panjang, struktur kubah tersebut telah mengalami proses perubahan bentuk, baik dikarenakan patahan, longsoran maupun erosi, sehingga berubah bentuk menjadi lembah. Proses deformasi ini telah membelah Kubah Sangiran, mulai dari kaki sampai pusat kubah di tengahnya, sehingga menyingkapkan lapisan tanah purba dengan sisa-sisa kehidupan purba yang pernah ada di dalamnya.

Prof. Dr. Ir. C. Danisworo, M.Sc., pakar geologi dari Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta menjelaskan, secara geologi daerah ini telah secara intensif dierosi secara intensif Kali Cemoro dan Brangkal, sehingga singkapan batuan yang baik dijumpai di tengah Kubah Sangiran. “Kalau kita berjalan dari tengah kubah Sangiran menuju ke tepi, akan kita jumpai batuan-batuan yang  semakin muda. Di sini singkapan berumur Plio-plistosen yang bagus dan berisi banyak fosil yang dapat diamati dengan baik. Dari segi struktur geologi pun, struktur kubahnya yang sangat khusus memanjang menjadikan daerah ini menjadi sangat menarik untuk diteliti”, paparnya. Plio-plistosen adalah lapisan tanah yang berumur sekitar 5 juta tahun yang lalu sampai dengan sekarang.

Jika tanah di Kubah Sangiran ini disingkap, dari pusat hingga bibir kubah akan dijumpai empat susunan lapisan tanah, dengan urutan dari bawah atau yang tertua, yaitu: Formasi Kalibening (dahulu disebut Puren), Formasi Pucangan (dahulu Cemoro), Formasi Kabuh (dahulu Bapang) dan Formasi Notopuro (dahulu Pohjajar). Dari hasil studi terhadap susunan dan kandungan fosil dalam setiap lapisan tersebutlah kemudian dapat diketahui sejarah terbentuknya kawasan ini berikut kehidupan yang ada di dalamnya.

“Banyaknya fosil hominid dan vertebrata di formasi Bapang diperkirakan karena manusia purba dan hewan vertebrata hanyut karena terjadinya banjir pada kala itu”, tutur Danisworo yang pernah melakukan penelitian di Sangiran untuk disertasi doktornya di Vrije Universiteit Brussel, Belgia.

Formasi Kalibeng adalah lapisan tanah yang paling tua di Sangiran, berumur antara 3.000.000 hingga 1.800.000 tahun yang lalu. Formasi tanah ini hanya tersingkap di bagian tengah Kubah Sangiran, yaitu di Kali Puren, cabang Kali Cemoro. Jenis tanah dan batuan serta fosil yang ditemukan menunjukkan bahwa dataran ini dahulunya adalah bagian dari sebuah laut dalam. Bukti kehidupan laut adalah ditemukannya fosil moluska laut.

Formasi Pucangan yang berada di atasnya berumur antara 1.800.000 hingga 900.000 tahun lalu. Disini dijumpai endapan lahar dingin yang terbawa aliran sungai, pengendapan rawa serta bukti terjadinya transgresi atau perluasan laut. Disini banyak ditemukan fosil-fosil binatang vertebrata seperti Gajah (Stegodon trigonocphalus), Banteng (Bibos palaeosondaicus), Kerbau (Bubalus palaeokarabau), Rusa (Cervus Sp.) dan Kuda Nil (Hippopotamus). Pada lapisan paling atasnya bahkan mulai banyak ditemukan fosil manusia purba.

Di atasnya lagi terdapat Formasi Kabuh yang berumur antara 900.000 hingga 250.000 tahun lalu. Fosil mamalia, manusia purba serta alat-alat batu paling banyak dijumpai disini. Pada bagian paling bawah terdapat lapisan pembatas dengan formasi dibawahnya yang dikenal dengan istilah grenzbank. Lapisan yang berusia 900.000 hingga 730.000 tahun yang lalu ini banyak memberikan temuan fosil ikan hiu, kura-kura, buaya, mamalia darat serta fosil manusia purba. Lapisan ini juga mengandung temuan alat batu tertua ciptaan Homo erectus yang pernah hidup di Sangiran.

Sementara Formasi Notopuro yang berumur 250.000 tahun yang lalu hingga sekarang, berada paling atas setelah Formasi Kabuh. Lapisan ini secara tidak selaras tersebar di bagian atas perbukitan di sekeliling Kubah Sangiran dan sangat jarang dijumpai fosil.

Dari lapisan tanah dan bebatuan yang dimilikinya itu, bumi Sangiran sejauh ini telah menyumbangkan lebih dari 50 persen populasi Homo erectus di dunia, sehingga dunia paleoantropologi menempatkannya sebagai pusat perhatian dalam studi evolusi dan peradaban manusia purba.

Berdasarkan periode hidupnya, Homo erectus memiliki 3 tingkatan evolusi, yaitu Homo erectus arkaik yang hidup 1,5 juta hingga 1 juta tahun lalu, Homo erectus tipik hidup antara 900 ribu hingga 300 tahun lalu, serta Homo erectus progresif yang hidup antara 200 ribu hingga 100 ribu tahun lalu. Analisa bentuk tubuh terhadap fosil manusia purba Sangiran terkait dengan 2 yang pertama, yaitu Homo erectus arkaik serta keturunannya, Homo erectus tipik. Sementara Homo erectus progresif memang belum pernah ditemukan di Sangiran, namun tingkatan evolusi ini telah ditemukan di Ngandong (Kabupaten Blora), Sambungmacan (Kabupaten Sragen) dan Selopuro (Kabupaten Ngawi).

Artinya, keseluruhan temuan purba itu telah merangkai bukti evolusi manusia purba dalam rentang waktu yang begitu panjang, tak kurang dari 1 juta tahun lamanya, lengkap dengan bukti pendukungnya seperti fosil-fosil binatang serta serta artefak yang semasa. Sekumpulan bukti kehidupan beserta peradabannya dari jaman yang berbeda, namun ditemukan di sekitar lokasi yang sama. Inilah yang mengukuhkan keistimewaan Situs Manusia Purba Sangiran sebagai pusat informasi peradaban manusia bertaraf internasional.

Penemuan-penemuan itu terus berlanjut hingga kini. Maret 2012 lalu misalnya, di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Sragen telah ditemukan fosil gading gajah purba (Elephantidae) dan rahang bawah gajah (Elephas sp.) yang ditemukan pada lapisan tanah Kabuh yang berumur 250.000 hingga 730.000 tahun yang lalu. Kemudian pada Mei 2012, pada lapisan tanah yang sama, di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar ditemukan pula fosil kerbau purba (Bubalus paleokarabau).

***

Sebagai sebuah situs yang sarat akan informasi tentang evolusi manusia purba, Sangiran sangat pantas untuk dikembangkan secara megah sesuai dengan potensinya yang mendunia. Menurut Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Dr. Harry Widianto, sejak tahun 2004 Pemerintah telah menyiapkan master plan serta Detail Engineering Design demi pelestarian dan pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran. “Empat lokasi telah dipilih sebagai klaster informasi dalam pengembangan kawasan situs, yaitu Krikilan sebagai visitor center, Ngebung, Bukuran dan Dayu sebagai satelit-satelitnya”, paparnya.

Klaster Krikilan merupakan pusat informasi tentang kehidupan manusia purba di Indonesia, sebagai The Homeland of the Java Man. Saat ini sudah berdiri Museum Manusia Purba Sangiran yang terpadu dengan kantor BPSMP Sangiran beserta beragam fasilitas penunjangnya. Sebagai payung dari 3 klaster lainnya, klaster ini sekaligus menjadi muara informasi tentang situs manusia purba lainnya di Indonesia, seperti Trinil, Kedungbrubus, Nagndong, Sambungmacan, Mojokerto, Ngawi, Patiayam, Semedo, maupun Bringin. Informasi itu juga disajikan terkait dengan posisi Sangiran dalam kajian evolusi manusia di dunia.

Klaster Ngebung secara khusus akan menyajikan informasi historis tentang Situs Manusia Purba Sangiran sejak penemuannya oleh von Koenigswald pada tahun 1934. Perjalanan Koenigswald bersama W.F. Tweedie di perbukitan Ngebung saat itu telah menemukan sejumlah alat serpih yang di kemudian hari sangat dikenal dan melahirkan istilah Sangiran Flake Industry. Temuan inilah yang awalnya memberi keyakinan pada Koenigswald akan ditemukannya fosil manusia purba di Sangiran (dan akhirnya terbukti 2 tahun kemudian). Disini akan dibangun berbagai sarana pondok informasi beserta fasilitas penunjangnya yang menyatu alam di sekitarnya.

Klaster Bukuran didedikasikan secara khusus untuk informasi tentang penemuan fosil manusia purba selama ini beserta kisah evolusi manusia secara singkat, dengan penyajian serta sarana pondok informasi setara dengan Klaster Ngebung.

Sementara di Klaster Dayu akan dikembangkan sebagai pondok informasi tentang berbagai hasil penelitian mutakhir, karena kawasan ini merupakan lokasi penemuan alat-alat serpih tertua di Sangiran, bahkan diIndonesia. Temuan itu berasal dari endapan sungai purba yang mengalir di antara lingkungan rawa sekitar 1.200.000 tahun yang lalu. Temuan di tahun 2002 itu masih berlanjut dengan penggalian kontinyu yang berlangsung hingga saat ini. Disini akan dibuka kotak ekskavasi khusus agar pengunjung dapat turun ke lokasi dan mengamati endapan sungai purba berusia 1.200.000 tahun beserta bentuk pelapisan tanah dan temuan artefaknya.

Jika keseluruhan rencana ini terwujud, bisa dipastikan Situs Manusia Purba Sangiran akan semakin lengkap dan representatif sebagai sebuah surga ilmu pengetahuan, khususnya dalam memahami evolusi kehidupan dan peradaban manusia dari masa ke masa. Tanpa menunggunya pun, Museum Manusia Purba Sangiran yang berdiri megah di Desa Krikilan sudah mampu membuat decak kagum akan potensi dan keistimewaan situs ini.

Nah, sudahkan Anda mengunjungi Sangiran?

Teks: Agus Yuniarso, Heru Purnomo; Foto: Budi Prast, Agus Yuniarso, BPSMP Sangiran
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar

komentar

Komentar

komentar

Powered by Facebook Comments

-->