10.04.2012  •  Regol  •  No Comments  • 

Sultan Hamengkubuwono IX: Kesejatian Pemimpin Jawa

”Seorang raja bukan lagi gung binathara, melainkan demokratis. Berprinsip kedaulatan rakyat, tetapi berbudi bawa leksana.”

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sedikit dari peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara yang masih hidup hingga kini, dan masih mempunyai pengaruh luas di kalangan rakyatnya. Sepanjang sejarahnya, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat telah melahirkan pemimpin-pemimpin besar penentang ketidakadilan, yang namanya bahkan harum hingga kini. Kraton Yogyakarta ini memang bukan saja melahirkan kebudayaan yang tinggi, kekuasaan yang turun temurun, namun juga semangat patriotisme dan sikap keteladanan para pemimpinnya.

Regol edisi April 2012

Sebagai bangsa yang tak melupakan sejarah, tentunya kita mengenal Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwono I, yang berani memisahkan diri dari Kasunanan di Surakarta karena pemimpinnya waktu itu dianggap terlalu penurut terhadap penjajah. Kemudian Pangeran Diponegoro, sebagai salah satu perwalian yang memerintah saat Kasultanan telah menobatkan Raden Mas Menol sebagai Sultan Hamengkubuwono V saat usianya 3 tahun. Serta peran kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Merekalah pemimpin bernama harum, yang semangat dan jiwanya dipersembahkan demi membela ibu pertiwi dari tangan asing.

Ketika mengingat kembali perjalanan kraton ini sampai akhirnya melahirkan sebuah daerah istimewa, tentu klimaksnya kita akan menyebut nama Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau merupakan sultan yang menentang penjajahan, mendorong kemerdekaanIndonesia, dan juga mendorong pemberian status “istimewa” bagiYogyakarta. Dalam perjalanan sejarah ini, Sri Sultan HB IX bertindak sebagaimana seorang pemimpin besar sekaligus seorang raja yang kharismatik. Ialah tokoh yang mempunyai banyak cerita menarik yang layak disajikan dan diceritakan sebagai sebuah keteladanan dan contoh kebajikan seorang pemimpin besar yang merakyat.

Sri Sultan HB IX yang bernama kecil GRM Dorodjatun merupakan putra Gusti Pangeran Haryo Puruboyo (Sri Sultan HB VIII). Dilahirkan pada 12 April 1912 dari rahim seorang perempuan yang di masa gadisnya bernama RA Kustilah, yang kemudian bergelar Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom. Perempuan inilah satu-satunya garwo padmi sang pangeran.

Ketika Dorodjatun berusia 3 tahun, beliau diangkat menjadi putera mahkota dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Mataram. Dorodjatun kemudian musti hidup terpisah dari keluarganya saat usianya menginjak 4 tahun. Oleh ayahnya, ia dititipkan pada keluarga Belanda yang tinggal di Gondokusuman untuk mendapatkan pendidikan yang penuh disiplin dangaya hidup yang sederhana sekalipun ia putra seorang raja.

Rupanya sang ayah menyadari perlunya arti pendidikan bagi para putranya. Beliau tak ingin para putranya telanjur menjadi seorang yang kalingan suka, ilang prayitnane atau terbuai oleh kesenangan dan kehilangan kewaspadaannya. Inilah sebabnya beliau sengaja memisahkan putra-putranya dari keluarga. Di keluarga Murder itu, Dorodjatun dibiasakan hidup mandiri, jauh dari sikap manja dan bermalas-malas, dan yang ada hanya disiplin, kerja keras, dan spartan.

Panggilan akrab pangeran kecil itu dalam keluarga Mulder adalah Henkie, yang diambil dari nama Pangeran Hendrik, suami Ratu Wilhelmina dari negeri Belanda. Henkie pun mulai bersekolah diFrobelSchool, taman kanak-kanak asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul. Pada usia 6 tahun, ia masuk sekolah dasarEersteEuropeseLagereSchooldan tamat pada tahun 1925.

Dorodjatun melanjutkan pendidikan keHogereBurgerSchool(HBS, setingkat SMP dan SMU) diSemarangdan kemudian diBandung. Pada tahun 1931, ia berangkat ke Belanda untuk kuliah di RijkuniversiteitLeiden, mengambil jurusan Indologie (ilmu tentangIndonesia) kemudian ekonomi.

Sekembalinya ke Yogyakartatahun 1939, setahun kemudian, tepat pada tanggal 18 Maret 1940, Dorodjatun pun dinobatkan di dampar keprabon sebagai raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menggantikan sang ayah. Ia bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping IX.

Gelar tersebut berarti bahwa sultanlah penguasa yang sah dunia yang fana ini. Ia Senopati Ingalaga yang berarti mempunyai kekuasaan untuk menentukan perdamaian atau peperangan, dan panglima tertinggi angkatan perang pada saat terjadi peperangan. Sultan juga Ngabdurahman Sayidin Panatagama atau penata agama yang pemurah, sebab ia diakui sebagai Kalifatullah, pengganti Muhammad Rasul Allah.

Semenjak menjadi raja, Sri Sultan HB IX memusatkan perhatiannya untuk bela ibu pertiwi. Jiwa raga serta pemikirannya, bahkan harta, dipersembahkan untuk keberhasilan Negara Kesatuan RepublikIndonesia. Di bawah kepemimpinannya, pemerintahan Kesultanan Yogyakarta pun mengalami bermacam perubahan. Rupanya, pendidikan barat yang pernah dienyamnya, membuat Sri Sultan HB IX dapat memberikan sentuhan alternatif perspektif budaya dalam menyelenggarakan Kasultanan Yogyakarta. Dengan kemajuan berpikir dan pandangannya, Sultan HB IX menghapuskan tradisi keraton yang dianggap kurang menguntungkan atau tak sesuai dengan zaman dihapus atau disesuaikan dengan alternatif budaya baru.

Sebagai raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB IX tentu mendapat amanah sebagai pemimpin tradisional sekaligus pemimpin formal yang keduanya ditunaikannya sepenuh jiwa dan raga demi bangsa dan negara. Beliau pun menunjukkan bahwa kedudukan seorang raja bukan lagi gung binathara, melainkan demokratis. Raja berprinsip kedaulatan rakyat tetapi tetap memiliki budi bawa leksana.

Di mata dan benak rakyat Yogyakarta danIndonesia, Ngarso Dalem Sultan HB IX dipandang pemimpin besar. Seorang raja kharismatik dan bersahaja yang menunaikan dengan cukup prima dan sempurna tahta untuk rakyat. Tahta untuk rakyat berarti segala kewenangan dan kekuasaan raja semata-mata diabdikan demi keselamatan, kesejahteraan, kemakmuran dan ketentraman rakyat.

FA Herru

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar

komentar

Komentar

komentar

Powered by Facebook Comments

-->